Monday, August 31, 2015

Menjadi Pengamat

Akhir-akhir ini aku lebih sering jadi pengamat. Kalo nongkrong sama temen lebih suka ngedengerin mereka ngomong daripada ikutan ngomong. Bukannya nggak paham dengan obrolan mereka. Baru-baru ini emang lagi menikmati menjadi pendengar daripada ngomong. Mau ngomong kalau emang ada yang bener-bener pengen di omongin.

Ngamatin obrolan temen itu asyik juga. Dari cara mereka ngobrol, dari cara mereka berfikir, juga dari bahan obrolan mereka. Kadang aku merasa sedang berasa ‘diluar angkasa’. Bisa melihat banyak hal yang luas. Karena kalau kita sedang ngomong, secara tidak langsung kita hanya fokus sama omongan kita. Sehingga mengabaikan banyak hal di luar kita yang sesungguhnya asyik untuk diamati.

Membasmi Jentik-jentik Nyamuk

Aku lagi sebel nih, sama bak kamar mandi di rumah. Setelah sekian lama aku perhatiin, ini bak kamar mandi rupanya ngelunjak. Manja. Minta di perhatiin terus. Aku kan jadi kerepotan. Kayak dia aja yang harus aku urusin. Nggak pengertian emang. Habis ini kita putus. Ehh~

Saking jengkelnya, akhirnya aku konsultasi dengan berbagai macam pihak. Mengenai bak kamar mandiku yang manja itu. Dari sekian banyak solusi yang ditawarkan akhirnya aku memutuskan mengambil langkah ‘aman’ untuk menangani si bak kamar mandi ini.

Wahai teman-temanku, bak kamar mandiku ini kecil. Dulu selalu bersih. Kurang lebih 1 minggu sekali baru di kuras. Tapi akhir-akhir ini 3 hari habis dikuras udah muncul jentik-jentik nyamuk. Ini satu bulan bisa lebih dari 5 kali nguras. Lama-lama jadi bianaragawati aku :|

Akhirnya, cara aman yang kulakukan adalah bak kamar mandi aku kasih irisan daun jeruk purut. Pertimbangannya, adalah karena ALAMI. Daun jerut purut kan wangi dan katanya mengandung antioksidan gitu. Bukannya jentik-jentiknya mati, bak kamar mandiku malah penuh daun jeruk. Ditambah kembang bisa buat siraman tuh.

Ini aku yang salah strategi atau emang jentik-jentiknya yang terlalu kuat ya….. Huaaaa, pusing pala eikeee.

Duh, maaf ya kalau ada yang kena jebakan cat woman, dari judulnya pasti mengira isi tulisan ini adalah cara-cara ampuh membasmi jentik nyamuk yang keren. Tapi malah ngebaca curhatannya manusia spesies langka calon binaragawati tersesat. Maaf~


(=^.^=)

Thursday, August 13, 2015

Cerita Matahari

Halo, namaku Matahari. Tapi jika kau bayangkan aku sehebat dan sekuat matahari, maka kecewa yang akan kau dapat. Karena aku hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan apa-apa. Aku hanya tahu namaku Matahari dan aku merasa keberatan dengan nama itu.

Suatu malam aku bertemu Bintang. Dia adalah seniorku ketika aku masih SMA. Mungkin dia tak pernah tahu aku. Namun, sejak aku menginjakkan kaki di sekolahku dulu, dia satu-satunya orang yang tak bisa kulupakan wajahnya.

Kini Bintang semakin bersinar. Tampan, pintar dan berduit. Kenapa aku harus menuliskan kata 'berduit' ? Karena sekarang ia lebih kaya dari yang dulu ku kenal. Ia sebenarnya masih baik. ((MASIH)). Tapi entah kenapa aku merasa dia berubah.

Ingin ku sapa Bintang malam itu. Namun sayang, aku tak seberani teman-temanku yang menyapanya. Aku hanya tertunduk malu melihatnya di depanku. Ia tampak tertawa-tawa bersama teman-temanku dengan rangkulan manis sang bulan di sampingnya.

Dia sudah memiliki kekasih. Bulan namanya. Orangnya baik. Dia menyapaku dengan ramah, bahkan sempat ngobrol banyak denganku. Dan aku pun hanya menimpali sesekali. Karena aku tak paham dengan dunia mereka. Tertawa hanya untuk menghargai obrolan mereka.

Mungkin aku memang matahari, yang tak bisa menemani bintang di setiap malam. Yang hanya bisa melihat dari kejauhan. Ah, aku memang Matahari, yang selalu menatap bintang di setiap malam. Semoga malam ini bintang bertabur indah di langit, bersama bulan yang menawan disampingnya. (=^.^=)



*dulu pengen banget bikin cerita dengan tokoh matahari, bulan dan bintang. semoga aja setelah nulis secuplik ini bisa muncul ide untuk pengembangan ceritanya, hohohohohoo

Friday, August 7, 2015

Dia Agustus

Ia kembali berjalan, menyusuri sungai yang mengular di tengah rimba. Entah apa yang ia perbuat. Ia seperti sibuk dengan pikirannya. Sesekali ia tersandung batu didepannya, sesekali pula ia mengaduh dan mengumpat. Tapi ia terus berjalan. Bahkan cicitan burung pun tak ia gubris. Hey, kenapa kamu tak peduli?

Di persimpangan ia berhenti. Ia terlihat bingung. Aku berharap ia belok di persimpangan itu. Tapi rupanya ia hanya berdiam disana dalam waktu yang lama. Dia seperti berfikir keras. Menentukan arah yang akan dituju. Apakah ia akan tetap lurus mengikuti jalan atau mencari hal baru dengan belok di persimpangan itu.

Aku berharap cemas disini, menanti langkahnya di kemudian hari. Karena aku hanyalah angin yang sedang berputar mengitari ia, yang disebut Agustus.


(=^.^=)