Sunday, October 16, 2016

Aku dan Sebuah Buku

"aku mau cari lagi" kata hatiku.
"lebay..." jawab hatiku yang lain.
"biarin, karena percuma aku punya tapi tak kupakai"
"Kalau semisal nggak ada?"
"pasti ada," dengan yakin aku menjawab.
"Ah kau pun sering ke warnet untuk....."
"Itu berbeda" jawabku tegas.

Ini adalah percakapan dalam diriku beberapa hari ini. Mengenai kekecewaan soal buku yang kubeli beberapa hari yang lalu.



Suatu hari, aku menghendaki sebuah buku berbasis ilmu yang ditulis seorang profesor ahli. Kutembaklah toko langgananku. Kosong. Kucari di toko lain, tak ada juga. Akhirnya aku teringat dulu temanku pernah beli buku di suatu tempat. "Disana murah-murah lho Da" katanya waktu itu. "Ya deh kapan-kapan aku kesana kalau cari buku" kataku waktu itu yang sampai hari aku mencari buku yang aku butuhkan, aku belum pernah kesana meski sering lewat.

Di siang yang terik pergilah aku ke tempat jual buku yang dimaksud temanku. Karena banyak kiosnya, maka aku pilih salah satu yang paling ramai, Kalau tempat kuliner ramai artinya makanan disitu enak. Berbekal prinsip itu, kupastikan tempat jual buku yang ramai adalah tempat yang lengkap.

"Mau cari buku apa Mbak?" tanya penjual ketika aku sudah berada di depan kios tersebut. Aku pun menyebutkan judul buku sekaligus nama pengarangnya. Penjualnya bilang ada. Legalah hatiku. Setelah melihat bukunya aku pun tanpa babibu  bilang "saya ambil satu,". "Mau disampul nggak Mbak?" tanya penjualnya lagi. "Iya" kataku.

Setelah disampul dan kubayar, kuterimalah buku itu. Ku masukkan tas dan segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, ku buka buku itu. Taraaaraaaaaa. Aku mencelos. Rupanya buku itu adalah buku bajakan. Hanya copian yang sampulnya dibuat seperti buku aslinya. :( :(

Apa aku kecewa? Sangat. Sedih? sekali. Bahkan sampai saat ini aku tak tega membuka buku itu. Padahal aku sudah pengen sekali mempelajari ilmu yang telah ditulis sang profesor tersebut. Ini lebay, sebagian diriku berkata. Iya, aku pun menjawabnya. Bagaimana tidak, ketika pertama tahu itu buku bajakan, aku langsung merasa sakit. Ini bukan soal harga. Karena aku mendapatkan buku itu dengan murah, yang harusnya aku curiga dari awal kenapa begitu murahnya. Ini soal bagaimana rasanya jika si penulis itu tahu bukunya di copi tanpa ada izin dari pihak-pihak terkait.

Lebay. Iya aku lebay. Tapi ini berbeda sekali dengan aku mengcopy film di warnet. Film itu sudah tidak ada di bioskop. Dimana aku memang dari awal tidak berminat menonton film itu, tetapi beberapa bulan kemudian pengen nonton. Maka carilah di warnet. Sedangkan buku ini masih ada di pasaran. Aku yakin itu. Dan aku bertekad akan cari buku yang asli.

Kalau memang nggak ada? Harus ada. Kalau semisal memang benar-benar nggak ada? Semoga hatiku bisa diajak kompromi. Sekian. (=^.^=)

No comments:

Post a Comment