Friday, May 16, 2014

Badai Menggoyang Prahu



Candu itu minta penawar. Setelah terlena dengan keindahan Semeru yang tak pernah bosan untuk diceritakan, akhirnya rasa ingin menikmati alam kembali membuncah. Ingin rasanya kaki ini segera melesat kembali menapaki bukit-bukit tinggi yang semakin menjulang menembus awan. Bersapa dengan pohon-pohon nan rindang dan nuansa keindahan alam yang tak pernah bosan untuk dipandang. Ingin sekali.

Kecanduan, untuk apapun itu, pasti bakal diperjuangkan, termasuk kecanduan menikmati alam

Bersahabat dengan alam membuat kita kaya. Kaya akan ilmu, kaya akan pengalaman dan yang paling penting adalah kaya akan teman. Sehingga, tak diragukan lagi jika bersahabat dengan alam ini menjadi sebuah candu untuk jiwa-jiwa yang tengah merindu pada kedamaian alam.


Sahabat alam kali ini adalah gunung Prau. Gunung yang terletak dikawasan perbatasan Wonosobo, Banjarnegara dan Batang. Tidak jauh dari kawasan wisata dataran tinggi Dieng. Sebenarnya sudah lama sekali kesananya, kalau tidak salah 3-4 November 2013. Tepatnya 3 bulan setelah perjalanan Semeru. Tapi baru sempat menuliskannya sekarang. Hohohoho.

Kali ini bersama dua teman kenalan waktu acara Tracking Semeru Indonesia (TSI). Mereka adalah Wisnu dan Ito. Dua bocah yang ternyata adek-adek kelasku di kampus, tapi beda jurusan. Sebenarnya aku sudah hampir membatalkan trip ini. Karena beberapa hari sebelumnya sakit. Tapi karena udah pengen pake banget nanjak gunung. Jajaki deh. Toh menurut informasi gunung Prahu ini katanya treknya mudah dengan ketinggiannya dibawah 2500 mDpl dan waktu tempuh mencapai puncak kurang lebih 2-3jam. Oke, nanti kita buktikan kemudahannya.

Ini adalah pertama untuk kami naik Prahu. Rencana kamu naik melalui jalur kawasan Dieng. Sebenarnya, jalur Dieng ini jalurnya lebih panjang daripada jalur Bantengan (dekat Pasar Bantengan). Tetapi menurut informasi dari Om Topik (teman Wisnu) jalur melalui Dieng lebih mudah dan landai daripada melalui Bantengan. 

Kami bertiga berangkat dari rumah Ito di Magelang siang hari. Sampai dikawasan Dieng kurang lebih pukul 2 siang. Sampai disana kami segera kerumah Om Topik untuk istirahat sebentar dan menitipkan motor. Rencana awal kami mulai mendaki sehabis ashar, karena ingin melihat sun set. Akan tetapi ketika baru berjalan sebentar dari rumah Om Topik tiba-tiba hujan deras. Dan kita nggak bisa kemana-kemana selain berteduh dipelataran rumah orang. Macam gembel aja kami bertiga ini -_______________-“

Hampir 3 jam kami menggembel diteras orang. Macam orang bego. Huh. Setelah hujan sedikit reda (masih gerimis sedikit) kami memutuskan untuk kembali kerumah Om Topik. Sehingga rencana mendaki diubah pukul 10 malam. Yeaaahh, bisa tiduran sebentar ini. Tapi cuma aku dan Ito yang tidur, soalnya Wisnu ngobrol sama Om Topik. Hehehe, maap ye Wis, kita leha-leha dulu :p

Pukul 10 malam, kami mulai mendaki. Diantar Om Topik sampai jalur pendakian. Malam itu cerah sangat. Bahkan bintang-bintang pun mulai menunjukkan dirinya. Keren. Tapi, angin berhembus kencang. Membawa dingin yang sampai menusuk-nusuk. Nggak main-main cuy si angin ini datangnya, kami pun harus berjalan sempoyongan. Saking kencangnya, sampai-sampai menimbulkan bunyi yang ngeri.

Jalur pendakian melalui Dieng ini dimulai dari melewati kuburan. Alamaaakk kenapa ngeri begini. Kami bertiga pun jejer-jejer jalannya saking kagetnya ketemu kuburan yang luas banget itu. Hahahaha, penakut juga kalian berdua. Lalu mulai lah jalan menanjak. Pertama-tama melalui pematang sawah. Kemudian mulai masuk hutan. Jalanan memang landai. Tidak terlalu menanjak yang kurang ajar. Cuma ngeri aja, ketika masuk hutan mendengar bising pohon-pohon yang tertiup angin.

Hampir 2 jam perjalanan sampai lah kami di Pemancar. Kata Om Topik, kalau sudah sampai pemancar berarti sudah hampir sampai di puncaknya. Setelah tugu pemancar kita akan melewati bukit-bukit. Jadi medan yang akan ditemui nanjak-datar-turun-datar-nanjak lagi, datar lagi dan seterusnya. Nah, setiap kami melewati dataran setelah tanjakan berarti posisi kami berada di atas bukit. Saat itu juga kami harus merasakan badai dan kencang. Dengan bunyi yang bising dan ngeri menambah ketakutan kami bertiga. Setiap anginnya kencang, kami pun terpaksa harus duduk sembari bergandengan tangan. Karena kalau jalan pun pasti akan sempoyongan dan hampir jatuh. Sedangkan kanan kiri jurang.

Kalau dirasa angin sudah tidak kencang lagi kami lanjut jalan lagi. jangan di bayangkan kalau angin tidak kencang tu kami aman. Tetep aja jalan kami sempoyongan, sehingga kami jalan pun bergandengan tangan. Hahaha, geli kalau inget, macam kereta api aja :D setelah melalui bukit-bukit kami akan bertemu dengan bukit telubbies. Jalanan datar dengan kanan-kiri bukit-bukit. Alhamdulillah ada penangkal angin juga. Jadi kami bisa berjalan dengan bebas meski suara angin masih meraung-raung.

Kurang lebih tiga jam perjalanan (kira-kira hampir pukul 12 malam) angin semakin kencang. Sepertinya mereka enggan bersahabat dengan kami. Padahal masih 2 bukit lagi yang harus kami lewati untuk menuju puncak Prahu ini. Oleh karena itu, kami pun memutuskan untuk ngecamp saja.
Jangan dikira mendirikan tenda ditengah angin kencang itu mudah. Tiap kali mau didirikan pasti goyang-goyang. Sampai-sampai frame tenda milik temanku hampir patah saking nggak kuatnya nahan angin. Setelah tenda berdiri, kami pun segera masuk tenda. Lupakan soal masak memasak. Tidur adalah kegiatan terindah sepertinya. Meskipun angin masih meraung-raung seperti ingin menerkam. Baru kali ini aku berada ditenda dengan goncangan angin yang dahsyat. Berdo’a terus agar si tenda kuat menahan angin yang nakal tersebut.

Pukul 05.00 kami pun terbangun. Daaaaann, angin masih saja teriak-teriak, masih saja kenceng. Jadi kami melihat sun rise dengan sedikit merinding. Setelah sedikit mengisi perut kami pun segera beranjak pergi dari tempat kami ngecamp. Karena khawatir angin semakin kencang.


sindoro, sumbing, merapi, merbabu, lawu dan ungaran

Pukul 07.00 kami telah jalan kembali. Mampir di salah satu bukit teletubis untuk mengabadikan beberapa gambar. Subhanallah, indahnyaaaa. Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu terlihat jelas. Bahkan Ungaran dan Lawu pun juga nampak. Di bagian Barat Slamet pun tak kalah menunjukkan kegagahannya. Semua begitu indah dan tak bosan dipandang mata. Tak sia-sia kami semalaman melawan angin, karena pada akhirnya hadiah Allah lebih indah.

slamet
bersama Wisnu dan Ito
tampak telaga warna
bukit teletubbies
Mencintai alam seperti aku mencintai Tuhanku. Karena Dialah, aku jatuh cinta terhadap apa yang diciptakan-Nya.



Setelah puas foto-foto, kami pun segera turun dengan perasaan gembira. Dan benar dugaan kami, begitu kami turun kawasan Dieng menjadi gelap. Suara petir menyambar-nyambar. Sehingga rencana kami untuk mampir di Telaga Warna, Candi Arjuna dan Kawah Sikidang gagal. Karena dipastikan hujan pasti akan segera turun.

Setelah istirahat kurang lebih 1 jam ditempat Om Topik, kamipun segera pamit. Tapi bukan pamit pulang ke Jogja sodara-sodara. Tapi mau mendaki lagi ke Sindoro. Hahaha, sok-sokan yaa. Tapi begitu sudah mendekati basecamp Sindoro yang melalui Tambi (kebun teh) kami mengurungkan niat. Cuaca di Sindoro juga tak begitu bagus siang itu. Gelap, seperti mau turun hujan. Sehingga kami pun pada akhirnya pulang ke Jogja (=^.^=)

17 Maret 2014 (LatePost)

No comments:

Post a Comment