Tuesday, January 6, 2015

Mengapa Mereka ???


Ini adalah pertanyaan ketika aku selesai mengirimkan lima kartu ucapan tahun baru kepada lima teman. Mengapa mereka. Mengapa lima teman ini yang aku kirimi kartu ucapan. Mengapa bukan si ini atau si itu atau si dia. Mengapa mereka?

Lama aku merenung untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ‘mengapa mereka?’. Secara, kelima teman yang aku kirim ucapan tahun baru ini rata-rata berada di luar Jogja (tempat aku berdomisili). Berdasarkan apa aku bisa memilih mereka untuk mendapatkan kartu (yang ku anggap) spesial ini? Atau aku hanya memilih mereka secara acak saja.


Akhirnya, aku pun menyusuri labirin pikiranku untuk melihat kembali kebelakang. Alasan yang membuat aku dipertemukan oleh mereka. Sehingga mereka memang layak menerima kartu ucapan spesial dari aku di tahun baru ini.

Yuar
Adalah orang pertama yang terlintas dipikiranku ketika aku berfikiran ingin membuat kartu ucapan tahun baru. Aku dipertemukan dengan dia di acara IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) 5 tahun yang lalu. Awal kami bertemu tidak mengindikasi adanya pertemanan ini akan sedekat sekarang. Tetapi mengapa Allah selalu mempertemukan kami?

Ternyata dia dikirim Allah untuk mensuport aku. Lucu ya. Emang. Allah mendekatkan aku dengan Yuar tidak hanya sekedar teman satu organisasi. Tapi lebih dari itu. Sebagai teman cerita, diskusi, problem solving, dll. Jangankan hal-hal serius, bahkan hal-hal konyol pun selalu menjadi perbincangan hangat kami. Dari dia aku belajar banyak hal. Salah satunya menjadi teman pendengar yang baik.

Bahkan sekarang dia di Bali pun kita masih sering komunikasi, walau pun hanya say hello aja. Makasih ya Yuu buat kupingmu yang masih mau denger keluh kesahku. Hehehehehe.

Rega
Jujur saja, aku baru kenal dengan adek yang luar biasa ini belum lama. Bertemu di Semeru pada pertengahan tahun 2013. Ngobrol-ngobrol asyik di awal tahun 2014. Lalu ketemu lagi di pertengahan 2014. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa kami akrab, apa alasan Allah tetap menjaga silaturahim kami. Padahal kami lebih banyak berkomunikasi di jejaring sosial daripada bertatap muka. Sebab dia di Jakarta.

Ternyata, pertemanan kami ini memberikan jawaban atas kepenasaran akan seseorang. Klasik sih. Masalah laki-laki. Singkat cerita, aku punya teman laki-laki yang aneh. Dari awal bertemu aku hanya ngasih stempel teman saja. Nggak lebih. Tetapi, lama-lama kedekatan kami jadi kurang wajar. Hampir saja stempelku ini mau lepas. Setiap mau lepas pasti ada saja hal yang mebuatku ragu. Akhirnya aku patenkan untuk tetap berteman nggak lebih.

Begitu stempel ini aku patenkan, nggak ada angin nggak ada hujan muncullah Rega bercerita. Dia cerita jika dia juga berteman ‘kurang wajar’ dengan teman laki-laki ini. Terbongkarlah ‘keusilan’ teman laki-laki ini dalam urusan perempuan. Alhamdulillah, berarti keputusan mematenkan stempel pertemanan ini adalah yang terbaik. Kalau dipikir-pikir, nggak mungkin kan kami bisa cerita panjang lebar dalam urusan seperti itu kalau kami dari awal nggak akrab.

Bisa jadi, kalau aku melewatkan silaturahim sama Rega ini, misal suatu hari teman laki-laki ini datang lagi dan aku nggak siap, runtuhlah seketika keping hatiku. Duuuhhhh, ogah banget. So, makasih Allah telah menjalinkan silaturahim dengan adek Rega.

Dibi
Sama dia, aku udah kenal lama banget. Kalau dihitung-hitung kami kenal kurang lebih 12 tahun. Wow banget ya. Jujur saja, dulu pertama kali kenal dia, sosok Dibi adalah sosok yang aneh. Pernah satu asrama sama dia, dan dia merupakan salah satu daftar teman yang dihindari oleh teman-teman yang lain. Tapi entah kenapa aku nggak bisa. Aku tetap berteman dengan dia, meskipun dia dibilang aneh.

Akhirnya, semakin kesini aku semakin paham. Dari dia aku di ajari banyak hal. Mulai mengenal organisasi, ideologi, cinta, sampai nulis-nulis. Kalau kalian pengen tahu siapa yang membuat aku gencar nulis sampai bikin blog kayak begini, dialah orangnya. Dia juga teman diskusi yang kece, apalagi soal ‘masih pengen single’ begini. Hehehhee. Semoga, tahun ini kita ada pencerahan buat mikirin nikah ya Dib, hihihihii.

Hasti
Adekku yang satu ini, kenal sudah cukup lama. Kalau sama Dibi 12 tahun berarti sama Hasti 11 tahun. Soalnya dia adek kelas jaman sekolah dulu. Sebenarnya, keakraban sama dia bukan dibilang kebetulan sih. Soalnya, aku jadi akrab sama dia, gegara dia tu adek-adekannya temen deketku si Maul. Karena Maul ini kuliah di Surabaya, so dia nitipin Hasti sama aku. Jadi deh akrab.

Aku dulu mikir, apakah akrabnya aku dan Hasti ini hanya karena dia titipannya Maul? Hanya sekedar mbak-adek untuk berbagi cerita aja? Ternyata nggak. Dari dia aku belajar keberanian dan menghadapi tantangan. Salah satunya naik gunung. Dia yang dulu membuat aku berani ngebolang dari Jogja-Bandung naik kereta api sendiri. Dia juga yang ngajakin aku pertama kali mengenal indahnya negri di atas awan. So, bertemu dengan Hasti adalah anugrah. Makasih ya adek sayang…..

Qmel Gembel
Sama kayak Dibi, aku kenal sama ni orang udah 12 tahunan. Dia temenku yang apa adanya. Saking apa adanya jadi kayak gembel. Hahahhaha. Bukan gembel yang bauk gitu lho ya. Gembel nya lebih ke nggak pedulinya dia sama penampilan gitu, tomboy-tomboy nggak jelas. Hahahhaa, damai ya Mbell :p

Lalu, apa yang membuatku bersyukur dipertemukan dan berteman dengan si Gembel ini? Tak lain dan tak bukan karena sikap apa adanya itu. Jarang aku temui teman yang sampai saat ini masih nggak peduli sama dandanan. Terus kegigihan dia buat menjadi orang bermanfaat. Dia memang bukan teman curhat yang baik, hihihihi, tapi dia adalah teman yang menyenangkan. Tanggal 11 besok dia mau nikah, akhirnya udah nggak jomblo lagi yo Mbel, hehehehe. Makasi untuk kehadiranmu sebagai teman :)


Inilah sosok lima orang yang aku kirimin kartu ucapan itu. Yang beberapa hari ini aku renungi terus untuk mencari jawaban atas pertanyaan ‘mengapa mereka?’. Hal ini bukan berarti teman yang lain nggak spesial dan nggak bermanfaat. Insya Allah, semua orang yang pernah aku kenal, yang hadir sengaja atau tidak sengaja dalam kehidupanku, pasti ada manfaatnya. Baik secara langsung atau tidak.

Karena aku percaya, setiap aku diketemukan dengan seseorang pasti ada hal baik. Sebab, mereka hadir dikehidupakanku pasti sudah di gariskan Allah. DIA nggak mungkin akan mempertemukanku dengan orang yang tidak bermanfaat dan yang tidak baik. Aku percaya itu (=^.^=).

No comments:

Post a Comment