Masih
di hari Sabtu 18 Februari 2012. Selepas dhuhur di masjid Atta’awwun Puncak,
perjalanan dilanjut ke Telaga Warna Cipanas sekalian pulang ke kos. Kalau
Puncak terletak di Bogor pinggiran, kalau Telaga Warna terletak di Cianjur
pinggiran. Untuk memasuki kawasan Telaga Warna ini, harus berjalan dari tempat
parkir kurang lebih 200-300 meter. Karena dari tempat parkir sampai pintu masuk
telaga harus melewati kebun teh terlebih dahulu.
Hanya goresan pena untuk mencurahkan asa dan rasa. Berbagi cerita untuk menjadikan hidup lebih hidup. Karena hidup adalah petualangan (=^.^=)
Thursday, November 21, 2013
Masjid Indah di Lautan Kebun Teh Puncak #Edisi KL
Jalan-jalan
edisi KL (Kerja Lapangan) kali ini adalah ke Puncak. Tepatnya hari Sabtu 18
Februari 2012. Letak puncak tak jauh dari tempat aku KL, karena masih sama-sama
di Cipanas. Bedanya tempat KL aku masuk wilayah Cianjur, sedangkan Puncak sudah
masuk wilayah Bogor. Jadi Cipanas tu perbatasan antara Cianjur dan Bogor
*harusnya namanya Cibogo ya, hihihi ngawur :p
Sebenarnya
bagiku yang notabene orang pertanian sudah nggak asing dengan kebun teh. Tapi ini
bukan hanya sekedar kebun teh teman-teman, tapi ini ke Puncak. Puncak men! Tempat
yang biasanya buat syuting ftv gitu. Hahahahaha :p *ngarep ketemu artis* Namun
hal menarik yang membuat aku dan teman-teman untuk datang ke tempat ini adalah
adanya masjid nan indah.
Bunga-bunga di TBN #Edisi KL
Jelajahi
tempat-tempat indah di selilingmu selagi sempat, karena kesempatan tak kan
pernah datang dua kali.
Kata-kata
di atas tercetus ketika aku sedang KL (Kerja Lapangan) di Cipanas, Cianjur,
Jawa Barat. Karena setiap weekend selalu saja aku berkeliling menikmati
tempat-tempat wisata di sekitar Cipanas. Dan kali ini, pada hari Minggu 28
Januari 2012 TBN menjadi salah satu tujuannya.
Pak Bon ku yang Hebat
Pak Bon, begitu aku memanggilnya. Beliau adalah tukang kebun di SD ku. Jangan berfikir kalau beliau adalah seorang bapak-bapak berumur lanjut usia. Beliau masih muda, umurnya kurang lebih 23an saat itu. Karena jarak sekolahku jauh dari rumah (20an menit naik motor) maka aku selalu berangkat pagi-pagi bareng bapak-ibu. Setiap pagi aku selalu mendapati beliau menyapu halaman sekolahku. Dan aku selalu menyapanya “sugeng enjang Pak. Selamat pagi Pak”, dengan riang gembira. “Sugeng enjang Ida, wes sarapan durung. Selamat pagi Ida. Sudah sarapan belum?” jawab beliau sekaligus bertanya balik. “ sampun Pak. Sudah Pak” jawabku sambil ngloyor masuk ke kelas.
Wednesday, November 13, 2013
Kado Itu Do'a
Kemarin
malam (12/10/13) saya terheran-heran melihat bungkusan berisi sajadah
tergeletak di kursi makan di dapur. Sebenarnya lebih tepat disebut karpet,
karena ukurannya lebih besar daripada sajadah pada umumnya. Mungkin karena
bercorak masjid sehingga saya bilang itu sajadah.
Puncak Merapi Yeeeaaahh #Merapi 2
Puncak
Merapi belum tergapai. Yupz, ketika melakukan tiktok ke Merapi beberapa bulan
yang lalu, kami terkena badai dan hujan sehingga menghambat untuk melanjutkan
perjalanan kami ke puncak. Padahal saat itu tepi kawah sudah berada 100m
didepan kami. Tetapi karena kabut yang gelap, kami tidak berani mengambil
resiko untuk melongok sejenak melihat kawah. Takut-takut salah pijak malah jadi
santapan lezat lahar nan panas itu. So, keinginan mengunjungi Merapi masih
menjadi keinginan terkuat.
Dua
minggu setelah pendakian Sindoro (yang gagal muncak juga karena lagi ‘berhalangan’) Dimas
( kakak angkatan di kampus) kembali mengajakku muncak ke Merapi lagi (yupz,
merapi #1 waktu itu juga sama Dimas). Awalnya aku nolak, karena aku yakin
banget tanggal yang ditentukan itu (09 Maret 2013, satu bulan pas dari
pendakian Sindoro) mendekati atau bahkan tanggal aku mendapatkan “tamu agung”
alias “haid”. Aku nggak mau kayak di Sindoro waktu itu. Gagal muncak karena
takut nggak kuat. Tapi aku berfikir ulang, bukannya aku masih kuat ya waktu
itu, aku nggak muncak karena takut nggak kuat aja kan. Setelah dibujuk-bujuk
oleh Avy sahabat dekatku di kampus, karena dia pengen banget naik gunung,
akhirnya luluh sudah aku dan memutuskan untuk ikut. Demi kamu lho Vy :3
Sindoro Oh Sindoro
Candu
itu kembali minta penawar. Dua bulan setelah pendakian Merapi ternyata hati ini
belum puas menikmati keindahan alam. Pendakian pun selalu dinanti. Meskipun
skripsi masih terlukai. Hahahahaha, sedikit miris sih dengan keadaan diri
sendiri, seakan-akan mendaki adalah pelampiasan dari pengerjaan skripsi. Tapi
pending dulu lah ngomongin skripsi ini, kita beranjak ke perjalanan menuju
Sindoro, hohoho.
Perjalanan
ini berawal dari sms kakak angkatan di kampus “Pengen naik gunung lagi nggak?”. Tanpa babibu
lagi aku membalas “pengeeennnn,
mau naik kemana, kapan, sama sapa aja, ada ceweknya nggak?” dengan
sederetan pertanyaan bagaikan kereta ekspres. “minggu depan ke sindoro sama temen-temen KKN
ku, ada ceweknya juga kok, si Eka, kamu pasti kenal”. Aaaahhh,
rasanya begitu bahagia akan kembali beraktivitas menikmati alam. Oke Sindoro,
tunggu kedatanganku!
Subscribe to:
Posts (Atom)

