Setelah
kejadian di Lawu, membuat aku berpikir ulang kembali tentang pendakian. Dulu
sempat berfikir, bahwa keinginan mendaki hanyalah sekali seumur hidup.
Lama-lama kelamaan dalam diri ini muncul keinginan untuk mendaki seluruh gunung
di Jawa Tengah (nggaya total ini). Rasa penasaran akan keindahan alam yang
ditawarkan, ternyata melunturkan seluruh rasa takut. Hingga akhirnya tawaran
untuk mendaki merapi tak dapat ditolak.
Hanya goresan pena untuk mencurahkan asa dan rasa. Berbagi cerita untuk menjadikan hidup lebih hidup. Karena hidup adalah petualangan (=^.^=)
Thursday, September 12, 2013
Wednesday, September 11, 2013
Memory Tegang in Lawu
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
(Nidji – Di Atas Awan)
Kalau denger
lagu Nidji tersebut, mengiangatkan ku akan pendakian di lawu. Menantang dan menegangkan.
Sebab pada dasarnya, sehabis pendakian Sumbing, aku masih rada trauma mendaki
lagi. Capeknya, pegel-pegelnya, dan bikin kulit muka ngelupas. Tapi, yang
namanya sudah cinta dengan alam, apapun resikonya hajar saja. Maka, ketika di
ajak Dimas kakak angkatan di kampus untuk mendaki Lawu, akunya mau-mau aja. Dan
kali ini tantangannya bukan hanya masalah pegel-pegel. Apakah itu?
Sumbing : Sejuta Rasa Pendakian Pertama
Pernah
suatu ketika, saat aku masih SMP, ditanya oleh seorang teman “apa cita-citamu?”
langsung aku jawab dengan tegas “menjadi penjelajah dunia”. Seorang penjelajah
yang melancong ke berbagai negri sambil menikmati alam. Ah, itu cita-cita jaman
dulu, ketika aku belum tahu apa-apa, bahkan ketika aku mengucapkannya pun
banyak ditertawakan. Cita-cita yang aneh kata teman-temanku.
Bromo : Sahabat Gunung Pertamaku
Alam
adalah sahabat terbaik, begitu aku bilang ketika pertama kali menginjakkan kaki
di kaki gunung Bromo ini. Landscape yang cantik, dengan hiasan hamparan ladang
yang luas, bunga beraneka ragam berjejer manis di sepanjang jalan, puncak
gunung menjulang tinggi dengan balutan kabut tipisnya. Subhanallah aku bisa
menikmati salah satu ciptaan-Nya yang maha indah itu.
Tuesday, September 3, 2013
Jejak Roda Sepeda
Sepeda itu pun melaju dengan
cepatnya, meninggalkan jejak-jejak roda yang membekas pada tanah. Melesat jauh
dan jauh. Tapi apakah kau mengira jejak itu akan terhapus. Tidak. Jejak roda
itu tak akan hilang begitu saja, dia akan terus berada diatas tanah yang
nantinya akan tertumpuk jejak-jejak yang lainnya. Atau jika hujan tiba, dia
yang akan sudi untuk menghapusnya. Seberapapun kau melaju jauh, kau kayuh
sepedamu, kau takkan pernah bisa menghapus jejak mu. Seperti halnya perasaan
manusia, semakin kau ingin melupakan, semakin ia mengekorimu sepanjang waktu.
(=^.^=)
Senja dan Fajar
“Kau laki-laki dan aku perempuan, mengapa kita tak berjodoh?” ungkap Senja terhadap Fajar dipenghujung malam.
Wednesday, June 5, 2013
Tentang Waisak
Waisak
merupakan hari suci umat agama Buddha, dimana dilaksanakan pada pertengahan
bulan Mei saat bulan purnama. Perayaan Waisak ini memperingati tiga hal, yaitu
lahirnya Siddharta, pencapaian Agung Siddharta, dan kematian Siddharta. Tiga peristiwa
tersebut dinamakan Trisuci Waisak. Di Indonesia, secara tradisional perayaan
Waisak dilaksanakan secara terpusat di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah.
Subscribe to:
Posts (Atom)