Tuesday, September 3, 2013

Senja dan Fajar


“Kau laki-laki dan aku perempuan, mengapa kita tak berjodoh?” ungkap Senja terhadap Fajar dipenghujung malam. 
Senja di Sumbing

Fajar pun diam, menatap Senja dengan ekspresi yang tak dapat ditafsirkan. “jawab Fajar.. jawab..!” paksa Senja sambil menangis sesenggukan. Fajar pun masih diam tanpa bicara sepatah kata pun. Diam pun menyelimuti mereka berdua. Hingga beberapa saat kemudian, barulah Fajar membuka suaranya. “Apakah bagimu berjodoh adalah kita harus selalu bersama? Tidak Senja, tidak seperti itu. Kebersamaan adalah tujuan kita, tetapi bukan berarti kita harus selalu bersama. Seperti halnya senja dan fajar, senja selalu muncul di sore hari dan fajar selalu muncul di pagi hari. Mereka mempunyai tugas masing-masing. Dikala sore, cahaya fajar pun menghilang digantikan senja, begitu pula ketika pagi menjelang, fajar pun muncul menggantikan Senja. Tetapi mereka sama-sama cahaya bukan? Mereka memang terlihat tak selalu bersama, mereka memang tak seirama, namun mereka saling melengkapi. Mereka selalu bersama, setiap matahari mulai ditengah bumi menyinari jagad raya. Seperti halnya kita Senja, meskipun kita tak seirama dan tak selalu bersama, namun kita saling melengkapi”. Senja pun terdiam, dan perlahan Fajar pun pergi meninggalkannya. Subuh pun tiba. Fajar mulai tampak bercahaya, membentang dijagad raya.


Fajar di Merapi

Senja di Pantai Depok

Senja di Pantai Depok

Fajar di Sindoro

Jika kamu tahu, seberkas cahaya matahari terindah adalah ketika fajar dan senja. Itulah mengapa aku menyukai matahari. Aku menyukainya dari dia terbit sampai dia terbenam. Mereka saling memberikan keindahan. Tak pernah fajar dan senja berebut akan tugasnya, mereka saling melengkapi. Tak pernah mereka cemburu satu sama lain, bahkan dengan bulan sekalipun, yang nantinya menutupi berkas-berkas cahaya mereka. Itulah keindahan, itulah kebersamaan. (=^.^=)

No comments:

Post a Comment