Tuesday, September 17, 2013

Ini Baktiku Sama Bapak Mbak....

Dia bernama Dewi (bukan nama sebenarnya). Anaknya cantik dan anggun bagaikan dewi. Jika dia berkata aduhai lembut sekali suaranya. Tapi jangan dikira, meskipun lembut dia tegas dan juga bijaksana. Hal ini terbukti dari kharismanya yang membuat teman-temannya selalu mendukung dia untuk menjadi pemimpinnya dalam hal apapun.

Mengapa saya ingin bercerita tentang Dewi ini? Karena saya sangat kagum dengannya. Kagum akan baktinya pada orang tuanya, terutama bapaknya, karena ibunya yang telah tiada.

Pada suatu ketika, awal dia masuk kelas 3 SMA saya  pun menanyakan pertanyaan klasik untuknya “besok rencana mau kuliah dimana kamu?”. Dia pun menjawab dengan mantap “aku pengen masuk psikologi mbak, kalau nggak ya yang berhubungan sama kesehatan mbak,”. “sip” jawab saya waktu itu. “mau nyoba masuk dimana?” lanjut saya. “insya Allah UGM mbak.,” jawab dia lagi. “semoga cita-cita dan do’amu terkabul dek,” doa saya kala itu.

Beberapa bulan kemudian, Ujian Nasional telah lewat, SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri) pun telah lewat juga. Kebetulan Dewi ini rumahnya dekat dengan rumah saya. Maka ketika kami bertemu saya pun bertanya padanya “gimana SNMPTN nya?”. Dia pun menjawab yang membuat saya terkaget-kaget “aku nggak ikut mbak”. “lhoh kenapa?” tanya saya lagi. dia hanya terseyum melihat kekagetan saya. “aku udah ketrima di Pendidikan Agama Islam (PAI) mbak,” jawab dia sambil menyebutkan salah satu perguruan swasta di Yogyakarta ini. “lhoh katanya pengen ambil psikologi atau kesehatan gitu?” tanya saya penasaran. Dia pun kembali tersenyum manis mendengar pertanyaan saya. “aku pengen nyenengin bapak mbak,” jawabnya lirih. Diapun terdiam beberapa saat. Lanjutnya, “dulu aku pengen masuk psikologi atau kesehatan karena ibu pengen aku masuk situ. Tapi kan ibu udah nggak ada mbak. Jadi aku masuk PAI buat nyenengin bapak,”. “emang bapakmu maksa kamu masuk PAI?” tanya saya pelan. 

Dia pun hanya terdiam. Duuhh salah ngomongkah saya? Beberapa saat kemudian dia pun berkata,“enggak mbak. Tapi bapak punya keinginan salah satu anaknya ada yang jadi ulama, mendalami agama islam gitu. Sebenarnya mbak ku yang disuruh, tapi kan dia udah jadi sarjana ekonomi. Kalau adek, kayaknya nggak mungkin mau masuk ke agama gitu. Jadi harapan bapak satu-satunya kan tinggal aku yang bisa memenuhi keinginannya. Walaupun bapak nggak maksa aku masuk PAI. Tapi aku tahu mbak, dari hati bapak yang paling dalam dia pengen ada anaknya yang masuk agama. Jadi aku masuk PAI ini buat bapak mbak,” jawab dia panjang lebar tetap dengan senyum manisnya.
Subhanallah. Terharu sekali saya mendengar jawabannya, hampir saja tumpah air mata ini. Dia rela melepaskan cita-citanya hanya demi menyenangkan hati bapaknya. Padahal bapaknya membebaskan dia untuk memilih jurusan kuliah apa saja. Bahkan dia sempat bercerita bahwa dia sama sekali tidak ikut ujian masuk perguruan tinggi manapun selain di Universitas yang menerima dia tersebut. Ketika saya tanya kenapa dia bisa seperti itu. Dia pun menjawab sambil tertawa, “nanti kalau ketrima bisa tambah galau aku mbak,”.

Saya pun hanya tertawa hambar menanggapi jawaban dia. Sungguh mulia kamu Dewi, kamu tak hanya seanggun dewi, hatimu pun lebih anggun. Bahkan apa yang Dewi lakukan sama halnya berjihad dijalan Allah. Sebab, berbakti kepada bapak atau orang tua juga merupakan salah satu cara jihad di jalan Allah. Seperti hadits Rasulullah SAW : Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wa Sallam, Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Mungkin tak banyak orang dapat berbuat baik dengan orang tuanya. Memenuhi permintaan pun kadang sangat sulit dilakukan. Apalagi menyenangkan hati orang tua, kadang ada saja berselisih paham antara keinginan kita dan orang tua. Dan kita selalu berfikir bahwa setiap orang tua pasti menyayangi anaknya. Sehingga kita beranggapan apa yang kita lakukan pasti bakal mereka ridhoi. Alasannya simpel, setiap anak punya hak dan kebebasan untuk memilih.


Nah, kenapa tidak kita balik, kita yang belajar untuk menyayangi mereka dengan menyenangkan hati mereka? Seperti Dewi, dia bisa membuktikan kepada kita, bahwa dia bisa menyenangkan hati orangtuanya. Saat saya menanyakan alasan dia kenapa dia ingin menyenangkan hati bapaknya, dia pun menjawab dengan mantap,“ ini baktiku sama bapak mbak”. Subhanallah. (=^.^=)


* untuk adik perempuanku yang hebat,,

No comments:

Post a Comment