Wednesday, September 11, 2013

Memory Tegang in Lawu



Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
(Nidji – Di Atas Awan)

Kalau denger lagu Nidji tersebut, mengiangatkan ku akan pendakian di lawu. Menantang dan menegangkan. Sebab pada dasarnya, sehabis pendakian Sumbing, aku masih rada trauma mendaki lagi. Capeknya, pegel-pegelnya, dan bikin kulit muka ngelupas. Tapi, yang namanya sudah cinta dengan alam, apapun resikonya hajar saja. Maka, ketika di ajak Dimas kakak angkatan di kampus untuk mendaki Lawu, akunya mau-mau aja. Dan kali ini tantangannya bukan hanya masalah pegel-pegel. Apakah itu? 
Pendakian di Lawu ini termasuk pendakian masal, karena kami mendaki dengan personil 16 orang. Ada Dimas, mas Reksa, Andank, Wenny, Ian, Ani, sepupu Ian, mas Wisnu, mas Wayan, mbak Vera, mas Ghoib, mbak Galuh, mbak Rizka, dan dua orang lagi yang aku lupa namanya :p

Kami berangkat dari Jogja Jum’at (16 November 2012) sebelum dhuhur, dan sampai basecamp Cemorosewu sorean, karena kami mampir masjid untuk shalat jum’at dan menunggu teman di Solo dulu. Saat hampir mendekati basecamp kami disambut hujan deras dan kabut, sehingga membuat perjalanan terhambat. Habis ashar barulah kami sampai di basecamp.

Karena masih hujan, akhirnya kami putuskan untuk mulai mendaki sehabis maghrib. Jadi kami leha-leha dulu di basecamp sambil menikmati teh hangat dan sepiring pecel yang rasanya uuueeenaaak tenan –jadi kangen basecamp Lawu, Cemorosewu-

Ternyata hujan pun enggan berhenti ketika maghrib telah lewat. Akhirnya, mau tak mau, kami pun tetap mendaki meskipun masih hujan. Dan ini adalah pengalaman pertamaku mendaki malam hari dan hujan, juga pengalaman pertamaku mendaki membawa carrier –nggaya-

Trek lawu sangat berbeda dengan trek di Sumbing. Kalo di Sumbing tanjakannya tinggi-tinggi, kalo di Lawu pendek, malah hampir menyerupai tangga. Tapi tetep aja, meskipun mudah, buatku tetep bikin capek. Ditambah malam yang dingin dan hujan. Lengkap sudah bikin aku pengen ngeluh-ngeluh –emang dasarnya tukang ngeluh akunya-

Lebih baik diam, daripada bicara hanya mengeluh  –ibukku-

Karena pendakian masal, maka break –istirahat- kami lebih banyak. Dan yang paling menegangkan dan menyeramkan, adalah ketika break aku sempat tindihan. Astaghfirullah. Aku hanya cerita ke Wenny kalo aku sempat tindihan. Sama dia aku disuruh banyakin do’a dan nggak melamun. Dia juga selalu menyemangatiku disetiap perjalanan –makasih Wenny :*
 
bisa-bisanya ada yang iseng jepret pas habis tindihan -___-"
Beberapa jam kemudian, sampailah kami di pos satu. Ada yang unik di Lawu ini. Di setiap pos terdapatlah sebuah bangunan dari kayu seperti pondokan berupa warung. Sehingga pendaki bisa mampir sebentar istirahat, makan, minum dan tiduran juga. Kebetulan di Lawu ini dari jalur Cemorosewu terdapat lima pos dan empat dari kelima pos tersebut terdapat warung pondokan yang dikelola warga setempat, yaitu pos I, II, IV dan V. Pikirku saat itu, kuatnya mereka bawa belanjaan sampai atas, akunya aja udah ngosngosan -,-

Perjalanan dari basecamp ke pos I sangatlah lama, karena memang jauh. Dari pos satu menuju pos II serta dari pos II ke pos III lumayan cepat karena dekat. Dan kami ngecamp –bikin tenda- di pos III, karena ketika sampai pos III sudah pukul 12 malam.

Keesok harinya kami menikmati pagi di pos III. Bikin sarapan dan foto-foto menjadi agenda utama kami. Kira-kira pukul 08.00 kami baru melanjutkan perjalanan.
 
Merapi Merbabu dari pos 3 Lawu

narsis dengan sebagian temantim :D

Ada yang aneh, ada yang ganjal, begitu perasaanku. Aku merasa selepas dari pos III perasaanku nggak enak. Aroma mistis sempat kurasakan. Tapi aku biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Hingga aku merasa lemes dan sempat nggak kuat jalan karena pundakku serasa beban mengganjal. Lalu tiba-tiba Andank menawarkan diri untuk membawakan carrier ku, tapi sebagai gantinya aku harus bawa trasbag sampah. Lagi-lagi aneh, meskipun aku tak membawa beban tapi tetap saja pundakku merasa berat. Bahkan ketika kami break di salah satu tempat yang luas sambil foto-foto, pundakku tetap merasa ada beban, seperti ada yang narik dan nindih. Astaghfirullah >.<

Lebih baik diam, daripada bicara banyak prasangka

Perjalanan pun berlanjut ke pos IV. Sepanjang perjalanan ke pos IV, sempat aku melihat banyak sajen. Hmmmm, bau-baunya udah nggak enak. Tapi aku nggak mau su’udzon. Cuma do’a aja. semoga kami semua selamat. Sampai pos IV hujan deras. Waktu itu, aku, Ani, sepupu Ian dan mas Reksa yang sudah sampai pos empat duluan. Disana kami berteduh di sebuah bangunan yang lagi-lagi penuh sajen dekat dengan sendang yang kala itu nggak ada airnya.

Disana ada bapak-bapak yang sedang duduk dip agar bangunan itu. Sembari menunggu teman-teman yang masih dibelakang, aku, Ani dan sepupu Ian –yang masih lupa namanya- ngobrol dengan bapak tersebut. Bapak itu bilang, kalau beliau adalah salah seorang yang sering berkunjung ditempat itu untuk berdo’a. Selama kami ngobrol, ada yang janggal, si bapak tersebut nggak pernah mau natap aku. Sampai aku heran, kenapa setiap aku ajak bicara bapaknya menatap ke arah lain, seakan-akan aku nggak ada. Allah >.<

Setelah rombongan datang dan istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Dan lagi-lagi si bapak nggak mau ngliat aku pas aku pamit. Yasudahlah, mungkin wajahku mirip seseorang yang bapak itu nggak suka, pikirku kala itu. Ketika meninggalkan pos IV dan menuju pos V atau pos terakhir pendakian hujan berhenti. Alhamdulillah

Sampai pos V kami istirahat agak lama. Karena pos ini merupakan pos terakhir sebelum puncak. Pos V biasanya disebut sebagai ‘warung mbok Yem’, konon katanya warung mbok Ye ini adalah warung tertinggi :o :o Kenapa mbok Yem? Karena nama pemiliknya katanya mbok Yem, hahaha

Dari tempat mbok Yem kami diantar oleh hujan. Jadi menuju puncak dalam kondisi hujan. Sedih memang, harus bertemu puncak hujan. Jadi nggak banyak ngebanci kamera >.< bahkan ketika kami iseng poto malah hampir disambar petir. Astaghfirullah. Yaudah lah ya, nggak foto-foto di puncak. Huff

Turun pun kami masih ditemani hujan hingga pos empat. Sampai pos III, barulah reda. Saat itu yang didepan cuma kami berempat, aku, mbak Riska, Weny, dan teman mbak Riska –masih lupa namanya- sedangkan yang lain dibelakang. Dari pos III, entah gimana cerita aku kececer dari mereka bertiga. Mau berhenti juga bingung, karena sendirian. Yaudahlah, aku tetep melaju terus sampai aku nggak sadar tiba-tiba terjungkal. Astaghfirullah, kayak ada yang ngedorong, tapi belakang nggak ada siapa-siapa. Dan perasaanku semakin kuat ketika pundakku semakin terasa berat >.<

Aku pun berusaha lari mengejar Weny, mbak Riska dan temannya, tapi kakiku berat, dan jalan pun menjadi seakan-akan terseret-seret. Allah, lindungi aku cepat temukan aku dan teman-temanku, do’aku dalam hati. Do’aku terkabul, beberapa saat kemudian, aku menemukan rombongan yang berhenti juga. Disitu terlihat mbak Riska dan temannya, tapi mana Weny. Kata mb Riska udah duluan. Kami pun turun bertiga hanya dengan satu senter dan lampu HP, karena rombongan belakang masih break lama dibelakang sana.

Saat kami bertiga turun, tiba-tiba saya merasa ada yang ngedorong lagi. Akhirnya saya jatuh untuk kedua kalinya. Yang ini lebih parah, karena aku jatuh seperti salto. Aku masih nggak apa-apa, cuma mringis-mringis nahan sakit, soalnya mau nangis juga malu. Kamudian kami lanjut jalan lagi. Saat jalan itulah dibelakang ada dua laki-laki yang mengikuti, aku tahu laki-laki dari suaranya. Karena pas pengen ngecek siapa gerangan kepalaku serasa berat untuk memutar. Yasudahlah, aku menganggap aman ada dua orang dibelakang saya. Mereka pun juga sempat mengobrol denganku.

Beberapa saat kemudian, aku merasa kayak ada yang ngedorong lagi. Jatuh untuk ketiga kalinya. Astaghfirullah. Masak sih kedua laki-laki dibelakangku ini yang ngedorong. Lagi-lagi kepalaku sukar untuk memutar melihat kebelakang. Bahkan laki-laki itu nggak nolong aku, malah bilang “kamu kok jatuh terus sihh, manja”. Hah? Mereka bilang gitu. Aku pun diam dan segera menyusul mbak Riska dan temannya yang sudah berjalan –mereka nggak tahu aku terjatuh- . sesekali aku mengobrol dengan kedua lelaki dibelakangku yang tak tahu bagaimana rupanya.

Begitu sampai pos II, kepalaku terasa ringan dan ketika aku menoleh kebelakang kedua laki-laki itu sudah tidak ada. Aku sapu mataku melihat sekeliling tidak ada tanda-tanda orang datang bersamaan dengan kami. Astaghfirullah. Siapa mereka? Sampai pos II sudah ditunggu Weny. Disitu kami istirahat dan makan. Aku pun cuma diam atas peristiwa tadi. Yang bikin aku tercengang teman mbak Riska malah bilang “Dek, kamu kok sepanjang jalan tadi diem aja” pliss tadi aku ngobrol sama orang dibelakang mbak >.<

Perjalanan dari pos II menuju pos I kami tidak berhenti. Kami langsung melaju menuju basecamp. Entah ada yang salah dengan penglihatanku atau nggak, sepanjang perjalanan aku seperti melihat keramaian disekelilingku, tapi ketika ku lihat dengan seksama tidak ada. Ah mungkin perasaanku aja. karena aku lagi capek.

Tepat pukul 21.00 barulah kami berempat sampai basecamp. Sedangkan 12 orang lainnya masih dibelakang. Begitu sampai basecamp mbak Riska dan temannya langsung pulang. Jadi tinggal aku sama Weny yang di basecampBeberapa menit kemudian menyusulah sudah mas Ghoib dan mbak Galuh. “Ni Mol, kerirmu,” kata mas Ghoib. “lhoh kok bisa di Mas?” sahutku heran. Kata mas Ghoib tasku ditemuin di pos empat, perasaan tasku dibawa Andak, tapi kata Andank dia nggak merasa dititipi –aku tanya pas dia sudah sampe basecamp- Terus aku tadi nitip siapa? >.<

Setelah aku mandi –daripada bengong nunggu teman yang lain- kira-kira pukul 22.45an rombongan lain datang. Karena aku paginya ada acara, mau nggak mau aku harus pulang. Jadi Dimas mau nggak mau ikutan pulang. Jadi yang pulang ada empat orang, sedang yang lainnya masih tinggal disitu karena capek. Sebelum kami pulang, Andank sempet bilang “mbak kamu tadi kenapa? Kok aku panggil nggak denger, padahal aku ada dibelakangmu”. Kapan Andank manggil aku? -,-

Diperjalanan pulang Dimas barulah cerita, kalo tadi dia ngeliat aku ‘diikuti makhluk lain’. Ya, Dimas katanya bisa ngeliat ‘makhluk lain’ yang kasat mata. Ya, akupun ngrasa, cuma aku selalu khusnudzon saja. Berasa seolah nggak ada apa-apa. Dia baru ngelepas pundakku setelah mau memasuki basecamp. Pantesan pundakku berat, lha wong yang ‘ngganduli’ dua. Astaghfirullah dosa apa aku ini. Padahal do’a dan shalat nggak lupa. Benar-benar syok aku waktu itu ~

Dari peristiwa menegangkan ini aku sadar, bahwa dimanapun kita berada, di alam sekalipun, kita harus ingat Tuhan. Karena Dialah sebaik-baiknya penolong dan pelindung dari apapun.

“….Hasbunallah Wa ni’mal Wakil ~ Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami. Dan Dialah sebaik-baik pelindung”QS. Ali Imron : 3

No comments:

Post a Comment